Slide background
Slide background

Berita Detail Hisab Rukyat

Home > Berita

Temu Kerja Hisab Rukyat 2014 "Standardisasi Hisab Rukyat : Upaya Penyatuan Umat"

Bogor - Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Direktorat Urusan agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI mengadakan Temu kerja hisab rukyat Kemenag RI yang merupakan agenda tahunan Kemenag RI. Jika pada tahun kemarin (2013) dilaksanakan di Batam, pada tahun ini dilaksanakan di Sempur Park Hotel Bogor selama tiga hari, dari tanggal 3-5 April 2014 dengan tema Standardisasi Hisab Rukyat : Sebuah Upaya Penyatuan Umat.

Berdasarkan dari laporan panitia yang disampaikan oleh Direktur Urais dan Pembinaan Syariah, Dr. H. Ali Muchtar Ali, M.Hum, acara ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari berbagai macam unsur seperti unsur Kementerian Agama RI, Mahkamah Agung, Pengadilan Agama, Balai Diklat, UIN, IAIN, ITB, LAPAN, BIG, BMKG, Boscha, Ormas, Planetarium, pegiat Ilmu Falak Astrofisika dan Komunitas Falak Perempuan Indonesia. Selain dari pada pentingnya acara ini untuk dilaksanakan, tujuannya memberikan dan meningkatkan pelayanan terhadap umat. Jika pada temu kerja hisab rukyat tahun lalu yang menjadi topik pembahasan adalah penentuan awal bulan di tahun 2015, maka pada temu kerja hisab rukyat tahun ini adalah pembahasan awal bulan hijriyah pada tahun 2016. Selain itu, dilakukan review hisab awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah di tahun ini.

Dengan tema standardisasi hisab rukyat : sebuah upaya penyatuan umat ini diharapkan untuk selalu menjadi agenda yang sangat penting untuk dilakukan setiap tahunnya. Selain diharapkan untuk dapat mewujudkan adanya persatuan, diharapkan pula agar hasil dari forum ini dapat menjadi masukan kepada Menteri Agama RI dalam penetapan sidang isbat pada tahun ini. Output pada muker ini adalah dapat memberikan kepastian kepada masyarakat khususnya tiga bulan yakni Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah di tahun ini. Mengumpulkan data hisab dari seluruh sistem hisab yang ada dan mengkaji kriteria awal bulan qamariyah yang kemudian akan menjadi masukan kepada Menteri Agama RI. Tujuan dari pada adanya kegiatan ini juga adalah menyusun dan membuat draf taqwim 2016, membahas naskah akademis standar baku hsab arah kiblat dan awal waktu shalat, memberikan masukan kepada Menteri Agama RI mengenai gambaran penetapan awal buln Ramadan, Syawal dan Dzulhijah pada tahun 1435 H (2014 M). Sekaligus, data yang dikumpulkan tersebut dijadikan sebagai bahan sidang persiapan sidang isbat tahun ini, tersusunnya data gerhana matahari pada tahun ini.

Acara temu kerja hisab rukyat yang akan diselenggarakan tiga hari ke depan ini akan terdiri dari banyak agenda besar. Tentunya agenda ini dilaksanakan semaksimal mungkin dengan menghadirkan beberapa narasumber yang akan memberikan wacana baru untuk dikaji bersama. Agenda-agenda yang akan dilaksanakan di antaranya review hisab awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah 1435 H (2014 M), pembahasan taqwim standar Indonesia, pembahasan naskah akademik standar baku hisab arah kiblat dan waktu shalat, pembahasan kriteria awal bulan qamariyah standar Indonesia, dan akan diakhiri dengan adanya sidang komisi I, II, III dan sidang pleno.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA ini adalah agenda yang menjadi perhatian khusus demi mewujudkan persatuan umat dalam melaksanakan ibadah bagi umat Islam, seperti ibadah puasa, idul fitri dan pelaksanaan idul adha. Perbedaan adalah bukan hal yang baru dengan timbulnya upaya tuntunan masyarakat kepada Pemerintah untuk duduk bersama, tutur Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA yang juga pernah menjadi Rektor IAIN Walisongo Semarang.

Dalam pengarahan yang sekaligus membuka resmi acara ini, ia sangat mengapresiasi mereka yang masih memiliki kepedulian terhadap pembuatan taqwim standar Indonesia dan merumuskan hal penting yang berkaitan dengan arah kiblat dan penentuan awal waktu shalat. Kelangkaan bidang ilmu falak ini ia akui memiliki tingkat kompleksitas masalah yang bertingkat dan ia tahu bahwa beberapa kalangan merasa tidak begitu familiar dengan persoalan hitung-hitungan. Ilmu falak perlu disemai dalam konteks ilmu keislaman. Ia mengkaitkan hal ini dengan lembaga yang dimiliki Kemenag dari semenjak tahun 1972. BHR atau yang dikenal dengan Badan Hisab Rukyat Kemenag terdiri dari ahli hisab, ahli fiqh dan ahli astronomi. Ia berpesan untuk selalu tetap dijaga dan dilestarikan.

Ia sangat berharap bahwa forum yang nguri-nguri ilmu klasik yang langka ini dapat memberikan kemanfaatan yang banyak. Banyak di antara kita, pertanyaan yang selalu dilontarkan dari mulai masyarakat awam sampai dengan yang pemegang otoritas mengenai penetapan awal bulan hijriyah. Jawaban umum yang selalu disampaikan pastinya menunggu hasil sidang istbat Pemerintah. Namun demikian, jawaban ini direskpon dengan reaksi masyarakat yang bermacam-macam. Bagi yang sudah mafhum, kapan berpuasa dan berhari raya memiliki prosedur, di mana terkait dengan dua paramter yang sangat menentukan. Berapa hasil perhitungan ketinggian hilal pada saat itu dan hasil rukyat pada tanggal 29 hijriyah, rembukan untuk menerima hasil rukyatul hilal. Meskipun hal yang paling sering adalah ketidak berhasilan yang menyangkut persoalan kapasitas tempat rukyat di Indonesia yang tertutup mendung.

Oleh karena itu, yang patut diharapkan dari forum semacam temu kerja hisab rukyat ini adalah forum yang harus mencerdaskan publik. Mengingat pemahaman yang harus dibangun manakala dalam kenyataan di forum internasional saja masih belum berhasil menyatukan kriteria. Meskipun kita telah masuk pada era modern, jika semangatnya menyatukan ada maka hasilnya bisa sepakat untuk berbeda. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi siklus perbedaan di mana suatu saat bersama, kadang berbeda dalam penetapan awal bulan hijriyah. Pertanyaan, bagaimana bisa bersatu? Pertanyaan berupa harapan yang selalu diulang-ulang itu lambat laun menjadi klise, karena potensi perbedaan itu sudahlah ada.

Hal yang sangat bermanfaat ketika mencermati tanggal baru dalam penentuan awal bulan qamariyah. Sinergi langkah penyatuan umat pada dasarnya telah termaktub dalam amanat Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2004 nomor 2 yang menyatakan bahwa awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijah ditetapkan melalui proses hisab dan rukyat dan dipakai secara nasional di republik ini. Masyarakat diperintahkan untuk mentaati dan dalam menentukan awal bulan harus berkonsultasi dengan yang punya wewenang dan menyertakan ormas islam. Hal inilah yang menjadi prosedur dalam penentuan awal bulan dalam rangkaian akhir hasil keputusan sidang istbat.

Kita dapat membayangkan bahwa jika tidak ada langkah Pemerintah seperti adanya sidang isbat, masyarakat akan semakin bingung. Karena dengan adanya sidang isbat sampai sekarang, masih terjadi gesekan di masyarakat, masih terjadi olok-olok publik. Sehingga Bangsa ini memerlukan kedewasaan, meskipun telah banyak ada metode apapun tetapi belum menyatukan. Hal ini bukan berarti usaha tidak dilakukan. Bentuk musyawarah dalam berbagai macam bentuk diskusi tetap memiliki langkah sinergi untuk saling merekatkan dan mempersatukan bahkan meminimalisir perbedaan. Ia meyakini bahwa kriteria penetapan awal bulan yang terdiri dari 2, 3, 8 itu dihasilkan dari proses yang panjang.

Berbagai kemungkinan terbuka untuk didiskusikan dalam forum ini. Sebaiknya, perlu ada keterlibatan ahli lain untuk memberikan kontribusi agar tidak terjadi olok-olok masyarakat. Siklus perbedaan ini akan berulang. Harapan untuk kita bersatu adalah permanen. Dengan forum ini diharapkan dapat memiliki kedewasaan dalam menerima hasil ijtihad ahli hisab. Hasilnya akan sangat berguna bagi sinergi upaya pembangunan ukhuwah umat kita dalam menghadapi perbedaan. Menurut Kasubdit Pembinaan Syariha dan Hisab Rukyah Kemenag RI, Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, disampingkan menghasilkan naskah akademik standardisasi hisab arah kiblat dan hisab waktu shalat, taqwim standar Indonesia 2016, serta review hisab awal bulan Ramadan, Syawal dan Dhulhijjah, pada muker membahas penetapan awal bulan Qamariyah standar Indonesia dengan narasumber Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin, M.Si, Ir H. Agus Mustofa, Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, M.Ag, Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA, Direktur Urais dan Binsyar Dr. H. Muhtar Ali, M.Hum dan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

Bogor - Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Direktorat Urusan agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI mengadakan Temu kerja hisab rukyat Kemenag RI yang merupakan agenda tahunan Kemenag RI. Jika pada tahun kemarin (2013) dilaksanakan di Batam, pada tahun ini dilaksanakan di Sempur Park Hotel Bogor selama tiga hari, dari tanggal 3-5 April 2014 dengan tema Standardisasi Hisab Rukyat : Sebuah Upaya Penyatuan Umat.