Slide background
Slide background

Berita Detail Hisab Rukyat

Home > Berita

PENDEKATAN HISAB TERHADAP RUKYAT

PREDIKSI BENTUK HILAL SYAWAL 1434 H YANG MUNGKIN TERAMATI

Bentuk hilal yang dimaksud adalah cahaya bulan yang berbentuk sabit tipis. Tebal atau tipis nya sabit cahaya bulan yang mungkin teramati dapat diperkirakan berdasarkan konsep hitung dan ketelitian yang tinggi agar presisi terhadap keadaan nyata.

Fraksi Iluminasi bulan adalah Rasio luas cahaya piringan bulan terhadap luas keseluruhan piringan bulan. Rasio luas cahaya bulan tersebut merupakan bentuk cahaya bulan yang dapat diamati oleh pengamat di permukaan bumi. Ketika ijtima’ rasio cahaya bulan tersebut bernilai minimum. Namun pada saat cahaya bulan memenuhi luas keseluruhan piringan bulan yang merupakan keadaan purnama, rasio cahayanya bulan purnama bernilai maksimum.

Busur piringan bulan yang tersinari pun dapat diprediksikan dengan menjejak kemungkinan cahaya pantulan sisi bulan yang bisa diamati oleh pengamat di muka bumi, patokannya dapat dibuat dengan panduan kemiringan hilal yang diperoleh dari posisi bulan terhadap matahari. sudut bentangan cahaya bulan pun dapat didefinisikan dengan istilah Angle Bright Limb.

Berikut ini gambaran prediksi bentuk cahaya bulan  yang kemungkinan dapat teramati mulai matahari terbenam tanggal 7 Agustus 2013 M, di wilayah Indonesia:

Ket: Garis miring adalah garis yang menghubungkan titik pusat bulan ke titik pusat matahari

 

HASIL PENGAMATAN HILAL SYAWAL 1434 H OLEH TIM BOSSCHA

Dari proyeksi prediksi/ simulasi jejak bentuk hilal di atas mari kita bandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan yang diperoleh oleh tim Bosscha ITB di Makassar berikut ini

 

Ket: garis miring kuning merupakan garis yang menghubungkan titik pusat bulan ke titik pusat matahari

 

Bisa kita bandingkan hasil hisab yang memprediksikan bentuk hilal dapat diamati diatas dengan hasil pengamatan yang diperoleh, terdapat kemiripan dan kesesuaian data. dari hasil perbandingan tersebut dapat kita jadikan bahan untuk menemukan formula penyatuan penetapan kalender Hijriyah yang pas. Apabila telah diperoleh kesepakatan terhadap hasil Hisab yang mempertimbangkan Hilal dapat diamati, maka Hisab tersebut mampu dijadikan alternatif untuk menetapkan kalender umat Islam di Indonesia yang tunggal. tentu dengan dukungan kajian empiris dan hasil pengamatan otentis yang dapat dijadikan dasar kriteria tunggal penetapan kalender Islam di tanah air.

Dengan sistem hisab yang mempertimbangkan para perukyat bisa mengamati hilal merupakan alternatif bagi para penghisab agar hasilnya dapat diterima oleh para perukyat. Begitupun para perukyat akan bisa menerima hasil hisab karena berkesuaian dengan keadaan fakta. Sehingga Hisab dan Rukyat akan senantiasa saling melengkapi sebagai sebuah metode yang paling mutakhir yang mampu menyatukan dari adanya perbedaan.

Semoga kesatuan persepsi, kesamaan visi dan kebersamaan langkah dalam penetapan kalender Islam di tanah air kian terwujud. Amin.

Kunci terwujudnya kesamaan penetapan dan kesatuan waktu dalam penentuan Kalender hijriyah di tanah air adalah adanya "Kesepakatan". kesepakatan yang bagaimana? tentunya kesepakatan terhadap definisi, cara dan kriteria yang digunakan dalam menentukannya. Rukyat merupakan kegiatan pengamatan yang tidak bisa dipungkiri akan sangat terpengaruh oleh banyak faktor diantaranya adalah kondisi atmosfer dan cuaca/keadaan alam. Hisab merupakan kegiatan perhitungan yang dilakukan untuk menentukan bilangan kalender. seyogyanya keduanya bisa saling melengkapi dan memperkuat. Hisab yang mempertimbangkan Hilal dapat diamati merupakan solusi yang membuka jalan kesatuan dan kesamaan penetapan kalender.