Slide background
Slide background

Berita Detail Hisab Rukyat

Home > Berita

HIKMAH PUASA RAMADHAN DAN PENETAPAN KALENDER

Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melaksanakan puasa. Puasa merupakan bentuk ibadah mahdhah seorang mu’min, yaitu dengan menahan diri dari makan dan minum serta menahan diri dari melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Ibadah puasa dalam sudut pandang hukum pelaksanaannya dibagi menjadi dua yaitu Puasa sunnah dan Puasa wajib. Puasa sunnah yaitu puasa yang dilakukan pada hari-hari tertentu dan puasa wajib yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Perintah wajib puasa tersebut terdapat dalam FirmanNya pada surat Al Baqarah ayat 183 sebagai berikut:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Baqarah: 183)

Allah SWT pun mengajarkan prosedur pelaksanaan puasanya. Jumlah harinya pun tertentu (dalam suatu ketentuan). Apabila ada orang beriman yang sakit dan karena nya tidak dapat melaksanakan puasa maka diwajibkan berpuasa di hari lain sejumlah hari yang ditinggalkannya itu. Begitupun bagi orang-orang beriman yang sedang dalam perjalanan dan karenanya tidak dapat melaksanakan puasa, wajib pula baginya untuk melakukan puasa yang ditinggalkannya pada hari yang lain. Sedangakan bagi orang mu’min yang berat untuk melaksanakannya (tidak mampu berpuasa) maka diwajibkan membayar fidyah memberi makan orang miskin. Ketentuan ini pun tercantum dalam firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 184 berikut ini:

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[*], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

[*] Maksudnya memberi Makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Kapan kita melaksanakan puasa wajib satu bulan penuh? Allah SWT pun memberitahu kita kaum mu’min untuk melaksanakan puasa wajib tersebut yaitu ketika kita menyaksikan kalender kita masuk Syahru Ramadhan. ketika seorang mu`min telah hadir di bulan Ramadhan maka mendapat perintah "berpuasalah". Hal ini tercantum dalam firmanNya surat Al Baqarah ayat 185, yaitu:

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Apa yang dimaksud dengan Syahru Ramadhan? Syahru Ramadhan adalah salah satu nama bulan yang ada dalam bilangan bulan Allah/ kalender Islam. Bagaimanakah bilangan Bulan Allah itu? sebenarnya istilah bilangan bulan dengan nama-nama bulan dari muharram sampai dengan dzulhijjah telah dikenali oleh orang-orang arab dimasa nabi secara turun-temurun. Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 36 berikut ini:

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[**] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

[**] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.

Bilangan bulan (Syahrun: tunggal/ Syuhur: jamak) disisi Allah itu ada 12 (dua belas) syahrun yaitu:

  1. Muharram
  2. Safar
  3. Rabiul Awal
  4. Rabiul Akhir
  5. Jumadil Ula
  6. Jumadil Tsani
  7. Rajab
  8. Sya’ban
  9. Ramadhan
  10. Syawwal
  11. Dzulqa’dah
  12. Dzulhijjah

Maka dalam satu tahun dikenal dua belas bilangan bulan kalender, dan dalam satu tahun bilangan bulan tersebut di atas, ada 4 (empat) Syahrul haram diantaranya yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Jadi Syaru Ramadhan adalah bilangan bulan kalender Islam yang ke-9 (sembilan). Oleh sebab itu jika kita menyaksikan kalender kita di bulan yang kesembilan itu (yaitu syahru Ramadhan) maka kita wajib melaksanakan puasa satu bulan penuh.

Setelah kita mengenali bulan kalender guna melaksanakan ibadah puasa, Allah SWT pun mengajarkan kita bagaimana mengenali bilangan tahun dari setiap pergantian syahrun melalui surat Yunus ayat 5 berikut ini:

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[*]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

[*] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

Dalam firman Allah tersebut terdapat kata Manzilah yaitu tempat-tempat perjalanan bulan. Di dalam praktek astronomis dikenal istilah Transit. Kita mengenal istilah transit dalam pengertian tempat berhenti, sebagaimana kata manzilah yang disebut dalam Al Quran secara bahasa bisa diambil pengertian sebagai tempat berhenti.

Karena matahari memancarkan sinarnya dan bulan menerima pancaran sinar matahari maka kita bisa melihat bulan berubah-ubah bentuk cahayanya. Bentuk cahaya bulan itu tidak secara cepat berubah namun perlahan. sehingga bentuk cahaya itu seolah-oleh berhenti dalam pandangan mata kita, dari bentuk sabit, menjadi bentuk setengah bundaran, sampai dengan bentuk bundaran penuh atau yang kita kenal dengan istilah purnama. Bentuk-bentuk cahaya bulan itu bisa terus-menerus berubah dikarenakan posisi bulan yang bergerak mengelilingi bumi selama satu bulan kalender yaitu antara 29 - 30 hari.

Karena perubahan bentuk-bentuk cahaya itu manusia dapat mengenali bahwa peredaran bulan membentuk siklus bulanan sehingga ketika bulan beredar mengelilingi bumi selama hampir penuh satu bulan kalender, bentuk cahaya bulan itu akan kembali berbentuk sabit. Hal ini diungkap dalam Al Quran surat Yasin ayat 39 berikut ini:

Artinya: dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[*].

[*] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

 

Dalam penyusunan kalender berdasarkan peredaran bulan (kalender-lunar) dikenal fase sinodis bulan mengelilingi bumi adalah 29,53059 hari. Karena penyusunan kalender Islam berdasarkan peredaran bulan maka kalendernya disebut juga kalender Qomariyah, adapun yang menamainya sebagai kalender hijriyah itu karena awal penetapannya diperhitungkan mulai pada peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya dalam penyusunan kalender Islam, jumlah hari dalam satu bulan yaitu 29 hari atau 30 hari. Tidak ada bulan kalender yang berjumlah 28 hari ataupun kurang dari itu, dan tidak ada pula yang berjumlah 31 hari atau lebih. Berikut ini kami berikan gambaran perjalanan bulan mengelilingi bumi dalam satu bulan kalender disertai istilah-istilah manzilah yang ada di dalam kitab Sullamunnajah:

 

 

 

Setelah beberapa pengetahuan di atas kita peroleh, ternyata kita telah diantarkan bagaimana caranya menyusun kalender Islam. Itulah mengapa Allah SWT ciptakan matahari memancarkan sinar dan bulan menerima pancaran sinar dari matahari, supaya kita bisa dengan mudah mengenal bilangan tahun dan perhitungan. Diantara perhitungan yang bisa diketahui adalah perhitungan hari, minggu, bulan dan tahun kalender.  

Allah SWT memerintahkan kita berpuasa di bulan Ramadhan itu artinya kita diperintahkan berpuasa pada bilangan bulan kalender yang ke-9 (sembilan). Allah SWT pun telah mengajarkan kita bilangan bulan disisiNya adalah 12 (dua belas), maka kita mengenali bilangan bulan kalender dalam satu tahun hijriyah adalah 12 (dua belas), dan tidak ada bulan ke-13 (tiga belas) dalam satu tahun kalender Islam.

Kita pun dapat dengan mudah mengetahui bilangan hari/ tanggal dalam minggu-minggu tertentu berdasarkan bentuk cahaya dari manzilahnya. Seperti bentuk setengah bundaran itu artinya sudah satu minggu, bentuk purnama sudah tengah bulan, bentuk sabit tua sudah empat minggu dan hampir habis satu bulan penuh sampai sabit tipis muncul lagi setelah satu hari bulan gelap dan terlihat setelah matahari terbenam di ufuk barat merupakan tanda datangnya hari awal bulan dalam penyusunan kalender Islam. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 189:

Artinya: mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Sabit tipis yang muncul lagi setelah matahari terbenam di ufuk barat dikenal dengan istilah hilal. Karena hilal senantiasa muncul pada awal hari bulan Qomariyah maka keberadaannya menjadi tanda-tanda waktu untuk penetapan tanggal 1 kalender Qomariyah. Tanda-tanda waktu (Hilal) itu tidak hanya untuk penetapan tanggal 1 bulan Ramadhan sebagai awal pelaksanaan ibadah puasa ataupun 1 Syawal untuk pelaksanaan Idul Fitri namun juga untuk memperhitungkan jatuhnya tanggal 10 Dzulhijjah guna penetapan pelaksanaan ibadah Haji dan Idul Adha.

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan ilmu dan karuniaNya, sehingga manusia mampu mengenal Alam Semesta yang telah diciptakan, mengerti bilangan tahun dan memahami perhitungan, Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW kepada keluarganya, para sahabatnya juga para pengikutnya hingga akhir jaman.